Langsung ke konten utama

Cara Membuat Video AI Hug yang Viral dengan Vidu AI Studio Gratis

 Membuat video AI yang viral dengan menggunakan Vidu AI Studio bisa menjadi cara menarik untuk menarik perhatian di media sosial. Berikut adalah langkah-langkah yang dapat kamu ikuti untuk membuat video AI Hug dengan menggunakan Vidu AI Studio secara gratis:  1. Mendaftar atau Masuk ke Vidu AI Studio    - Kunjungi situs resmi [Vidu AI Studio](https://vidu.ai) dan buat akun jika belum memiliki. Kamu bisa mendaftar menggunakan email atau akun media sosial.    - Setelah mendaftar, masuk ke akun kamu.  2. Pilih Template Video    - Setelah masuk, pilih template video yang sesuai dengan konsep "AI Hug" yang ingin kamu buat. Biasanya, Vidu AI Studio menyediakan berbagai template yang dapat disesuaikan dengan tema atau suasana hati tertentu.    - Cari template yang paling mendekati atau yang paling mudah disesuaikan untuk membuat video pelukan (hug).  3. Sesuaikan Template**    - Masukkan elemen-elemen seperti teks, gambar, a...

ABAH

 


              “Bip…bip…bip…,” suara HPku berdering sedari tadi.  Agak terburu-buru kuselesaikan shalat Isyaku.  Setelah selesai segera kuraih Hpku yang terletak di atas tempat tidurku.  Ternyata Rama adik bungsuku yang menelpon tadi.  Tumben pikirku.  Penasaran…langsung kutelpon lagi Rama.

            “Ada apa, Ding?” tanyaku langsung.

            “Abah Ka.” Kata Rama singkat.

            “Iya…, kenapa dengan Abah,” tanyaku dengan penasaran yang lebih lagi.

            “Abah…,”kudengar suaranya terputus-putus seperti ada yang ditahan.  “Abah…sakit Ka,” akhirnya dia mengatakannya juga.

            “Abah sakit apa?  Sudah dibawa ke dokter belum?  Mama mana?  Kakak mau ngomong dengan mama….,”pertanyaanku langsung bertubi-tubi.

            Pada akhirnya aku tahu kalau Abah sakit sesak nafas tapi belum tahu apa penyebabnya.  Sudah dibawa ke rumah sakit swasta tapi langsung ditolak karena Abah mempunyai gejala seperti pasien Covid-19.  Dan pada akhirnya diputuskan Abah dibawa ke rumah sakit umum daerah Banjarbaru.  Begitu penjelasan Mama saat aku menelpon tadi.  Saat Mama menyebut kalau Abah dibawa ke rumah sakit daerah yang merupakan rujukan Covid-19 pikiranku langsung tidak karuan.  Tapi semoga apa yang kupikirkan tidak kejadian.

            Malam itu juga aku mencari tiket pesawat untuk bisa pulang besok pagi.  Alhmadulillah dengan bantuan Icha temanku akhirnya aku mendapatkannya.  Besok juga aku lakukan rapid test sebagai salah syarat untuk penerbangan.  Malam ini aku tidak bisa tidur, pikiranku terus ke Abah.  Abah tidak pernah mengeluh sakit, jadi kalau sekarang sampai kejadian berarti sakitnya Abah sudah parah.

**********

 

            Rama menjemputku di bandara.  Kami pulang dulu ke rumah dulu. 

            “Mama yang di rumah sakit Ka.  Kita bergantian nanti menjaga Abah.  Dalam kondisi pandemic begini pihak rumah sakit membatasi keluarga pasien untuk membesuk.  Abah sekarang masih di ruang IGD,” Rama menjelaskan kepadaku dalam perjalan ke rumah.  Aku hanya manggut-manggut mendengarkannya.  Rasanya tidak sabar aku ingin ketemu Abah.

            “Tapi kalau kakak mau ngomong dengan Abah, kita bisa vicall koq,”Kata Rama sambil mengangkat tasku ke rumah.  Aku hanya mengangguk.  Kuhempaskan tubuhku di sofa ruang tamu lalu kuraih HPku untuk menelpon Abah.  Kutekan nonya Abah.  Agak lama menunggu tapi akhirnya dianggkat juga.

            “Assalamu’alaikum Abah…  Bagaimana keadaan Pian,  Bah?”sapaku.  Aku melihat wajah Abah agak pucat tapi Sidin tetap tersenyum.

            “Wa’alaikumussalam…Alhamdulillah Abah sudah agak enakan ini, paling besok juga bisa pulang lagi ke rumah.  Kamu kapan sampai ?”Tanya Abah

            “Baru saja Bah…,”kataku

            “Kuliahmu bagaimana, mau siding kan ya?”Tanya Abah.  Aku mengangguk perlahan.

            “Maaf Pak Ibrahim, permisi kita makan siang dulu ya, lalu ini obat yang harus Bapak minum nanti …,”kudengar suara suster meminta Abahku untuk makan siang dan minum obat.

            “Rin…Abah makan dulu ya Nak, kamu jangan lupa juga makan,”Kata Abah.

            Sudah 3 hari Abah dirawat tapi belum ada perkembangan yang berarti sbagai tanda kesembuhan Abah.  Mama juga semakin sedih dan lelah.  Apalagi 2 hari lagi Sidin mulai masuk mengajar.  Itu juga menjadi pikiran Mama.  Dari keterangan Dokter Munawar yang merawat Abah katanya Abah menderita sinusitis akut.  Lendir sudah menutupi hampir di seluruh bagian pernafasan tapi semoga tidak sampai ke paru-paru.

            “Kalau kondisi suami saya seperti ini apa tidak sebaiknya diuap saja Dok agar lender bisa keluar,” kata mamaku kepada Dokter Munawar.

            “Belum perlu, Bu.  Kita lihat perkembangan Sidin dulu sampai besok.  Sidin minum obat yang sudah ulun resepkan tadi saja Bu,”Jelas Dokter Munawar.  Mamapun menurut saja meskipun Sidin tidak begitu puas dengan.

**********

            “Apa….suami saya masuk ruang isolasi?  Koq bisa Dok?  Kemarin kan Sidin masih baik-baik saja bahkan sudah siap mau pulang.  Tapi sekarang malah masuk ruang isolasi.”kudengar suara Mama begitu terkejut mendapat telpon dari Dokter Munawar.  Mama terduduk lemas, makanan yang dipesan Abah kemarin Sidin letakkan begitu saja di atas meja.  Kalau Abah masuk ruang isolasi secara otomatis kami sudah tidak bisa lagi menjenguk Abah.  Ya Allah… kami hanya memohon yang terbaik untuk Abah…. Selama Abah dirawat di ruang isolasi kami hanya bisa berkomunikasi melalui HP.  Jadi kami bisa mengetahui perkembangan Abah.

            Sudah 2 malam Abah dirawat diruang isolasi.  Eantah kenapa hari ini Mama terlihat begitu gelisah.

            “Ada apa,  Ma?”Tanyaku kepada mama setelah kami menyelesaikan shalat Dhuha.  Kulihat jam dinding di rumaku menunjukkan jam 09.30.

            “Abahmu, Mama telpon berapa kali kada mengangkat.  Kenapa ya,  Rin?” jelas kulihat kekhawatiran dari wajah dan suara Sidin.

            “Bagaimana kalau Pian coba telpon Dokter Munawar, barangkali kita bisa mendapatkan informasi tentang Abah, Ma,” Saranku.  Mamapun menelpon Dokter Munawar. 

            “Apa Dok…, suami saya koma.  Sidin sudah memakai fentilator?” suara Mama kudengar semakin cemas.

            “Rin, kita ke rumah sakit sekarang.  Mama khawatir kalau terjadi apa-apa dengan Abahmu,” Mama mengajakku dengan tergesa-gesa.  Di dalam mobil Mama juga sedanga mencoba menelpon Paman Rian Ading Abah.  Tapi belum juga berhasil.

            Sampai di rumah sakit suasana semakin mencekam.  Aku melihat para dokter yang merawat hanya lalu lalang tanpa menyapa apalagi menjelaskan sesuatu tentang kondisi Abah.  Sampai akhirnya Paman Rian dengan sigap meraih tangan Dokter Munawar saat dia melewati kami.

            “Dok…bagaimana keadaan kakak saya?”Tanya Paman Rian.  Panjang lebar Dokter Munawar tapi belum juga sampai pada kondisi Abah saat ini seperti apa?

            “Sudah lah Dok…nggak usah terlalu bertele-tele, langsung saja, bagaimana keadaan kakak saya saat ini?” suara paman Rian terdengar meninggi.  Terlihat wajah Dokter Munawar juga tegang mendengar suara Paman Rian seperti ini.

            “Ulun mewakili rekan-rekan yang sudah merawat Pak Ibrahim selama ini minta maaf….,”Suara Dokter Munawar terhenti sejenak.

            “Bapak sudah meninggal Pak, Bu…Saat ini jenazah berada di ruang jenazah untuk diselenggarakan denga protocol Covid-19.  Ulun Permisi….,”Dokter Munawar berlalu meninggalkan kami bertiga aku, Mama dan Paman Rian yang tak percaya.  Secepat kilat Paman Rian langsung menuju kamar jenazah.  Melihat Paman Rian datang, dengan cepat para petugas mencegahnya untuk masuk.

            “Aku mau lihat kakakku untuk yang terkahir kalinya,”Paman Rian memaksa untuk masuk.

            “Jangan Pak, Pian kada boleh masuk ke sini,  berbahaya buat Pian,”kata salah satu petugas di kamar jenazah.

            “Kalau begitu izinkan aku menyalatkan kakakku,” pinta Paman Rian.  Akhirnya petugas mengizinkan Paman Rian untuk ikut menyolatkan jenazah Abah.  Masalah tidak selesai sampai di sini berlanjut pada masalah lokasi pemakaman.  Karena Abah belum terkonfirmasi Covid-19 jadi masih boleh untuk memilih sendiri lokasi pemakaman sesuai keinginan keluarga tidak dimakamkan khusus korban Covid-19.  Tapi jenazah Abah tidak boleh dibawa pulang ke rumah jika tetap berkeras maka pihak rumah sakit tidak bertanggung jawab dan kami akan membayar denda sebesar Rp20.000.000.  Dalam kondisi seperti ini kami sudah terlalu lelah untuk berdebat sehingga diputuskan untuk mengikuti saja peraturan yang ada.

            Pemakaman berjalan lancar, banyak polisi dan satpol PP.   Karena khawatir masyarakat disekitar pemakaman ada yang tidak terima karena pasien Covid-19 yang dimakamkan di sana.  Aku dan Mama pulang ke rumah. Sudah ada saudara Mama yang membantu di sana tapi tetangga yang berada dalam 1 blok tidak satupun yang datang.  Mungkin mereka tahu kondisi Abah.  Kami juga tidak tahu siapa yang sudah menyebarkan isu kalau Abah positif covid-19 padahal hasil SWAB Test Sidin juga belum keluar.

            Teman-teman Abah satu sekolah banyak yang datang menyampaikan belasungkawa.  Aku melihat Mama dari tadi sebentar-sebentar melihat kearah pintu.

            “Ada apa, Ma?Ada yang Pian tunggu?” Tanyaku.

            “Teman-teman Mama mengajar koq ngga ada yang datang ya, Rin?  Padahal Mama membaca di grup WA sekolah ramai sekali mengucapkan turut berduka cita…,”Tanya Mama dengan mata nanar.

            “Mungkin mereka takut ketularan kita ya Rin.  Karena Abahmu dimakamkan dengan protocol Covid-19,”kata Mama.  Aku hanya mengangguk perlahan.  Tiga hari setelah Abah dimakamkan barulah kami menginjungi Sidin.  Kedatangan kami ke pemakaman diiringi tatapan tajam warga sekitar pemakaman.   Ternyata begini rasanya menjadi keluarga yang dicurigai Covid-19.  Stigma masyarakat seperti ini yang harus siap kami hadapi sekeluarga.

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kata Bijak Sayidina Umar bin Khattab 2

Waspadalah terhadap waktu luang karena ia lebih banyak membuka pintu maksiat daripada syukur. Jangan menjadi gila karena cinta kepada seseorang, atau ingin menghancurkan seseorang karena kebencian. Kata Mutiara  Ibnu Mas’ud Setiap orang di dunia ini adalah seorang tamu, dan uangnya adalah pinjaman. Tamu itu pastilah akan pergi, cepat atau lambat, dan pinjaman itu haruslah dikembalikan. Sabar memiliki dua sisi, sisi yang satu adalah sabar, sisi yang lain adalah bersyukur kepada Allah. Kata Mutiara  (HR. Bukhari) "Berangkat pada pagi hari atau sore hari di jalan Allah (berjihad) adalah lebih baik dari dunia dan semua isinya." 96. Allah azza wajalla berfirman: "Aku dalam sangkaan hamba Ku kepada Ku dan Aku bersamanya jika ia mengingat Ku. Maka, jika ia mengingat Ku pada dirinya, Aku akan mengingatnya pada diri Ku. Dan jika ia mendekat pada Ku sejengkal, maka Aku akan mendekat padanya sehasta, dan jika ia mendekat pada Ku sehasta, maka Aku akan mendekat padanya padanya sedep...

KATA RAYUAN MENYEBALKAN

Jika kau harus berpisah dengannya itu bukan kesalahanmu Tetapi adalah kesalahan jika kau terus bersamanya Karena ternyata kalian hanya saling menyakiti === Janganlah menangisi cinta yang telah berlalu Tapi tersenyumlah karena begitu banyak cinta yang menunggu Cukup buka hatimu terhadap cinta yang baru === Ada yang bilang jatuh cinta itu indah tetapi yang namanya jatuh tetap sakit Tapi jauh lebih sakit jika tak pernah jatuh cinta Jadi bangkitlah, karena ada cinta baru untukmu === Jikalau cinta yang ada padamu ingin pergi relakanlah dia pergi Daripada dia tak bahagia denganmu Dan pastinya kebahagiaanmu bukanlah bersama dia melainkah bersama cinta yang setia padamu === Jangan biarkan dirimu terpuruk karena patah hati Tetapi bersemangatlah karena mending berpisah sekarang Daripada nanti saat semua telah disahkan Percayalah begitu banyak cinta untukmu Jangan tutup dirimu. === Memang sungguh tak enak jika kisah ini harus berakhir Namun jauh lebih menyakitkan jika terus bersama Karena memang ...